OPINI
ANBK, TKA, dan
Satu Benang Merah: Guru yang Harus Terus Belajar
Dua instrumen berbeda, satu kesimpulan yang sama: selama ekosistem pendidikan belum bergerak bersama secara serius, guru tidak akan pernah cukup kuat untuk membawa siswa ke mana mereka seharusnya pergi.
Oleh: Mario Capestrano Gesiradja
Selama tiga tahun saya mengurus ANBK di sekolah. Mendampingi anak-anak
mengerjakan soal, mempersiapkan komputer dan jaringan, membaca rapor pendidikan
yang keluar setelahnya. Tapi yang paling membekas bukan angka-angka itu. Yang
paling membekas adalah saat duduk di samping anak yang sedang berlatih, dan
menyadari sesuatu yang tidak terlihat dari laporan manapun: anak ini bisa
membaca, tapi tidak paham apa yang baru saja ia baca. Atau kalau ia paham
ceritanya, begitu ada angka, buntu. Dan ada yang lebih membingungkan lagi: anak
yang lancar membaca, paham ceritanya, tapi tidak mengerti bahwa kalimat itu
sebenarnya adalah soal matematika. Tiga masalah berbeda. Satu anak. Satu soal.
Dari situlah saya mulai fokus ke fondasi: pemahaman konteks bacaan dan
matematika dasar. Bukan drilling soal, bukan hafal pola jawaban. Kalau dua hal
itu sudah kuat, soal ANBK tidak lagi terasa asing. Dan saya semakin yakin, guru
yang ingin melatih anak seperti ini harus benar-benar mengerti akar masalahnya.
Tidak cukup hanya tahu cara mengerjakan soalnya.
Kini ada satu instrumen baru yang mulai banyak diperbincangkan: Tes
Kemampuan Akademik, atau TKA. Banyak guru dan orang tua masih belum terlalu
paham bedanya dengan ANBK. Wajar. Keduanya memang terdengar mirip. Tapi
keduanya punya tujuan yang berbeda, dan penting untuk dipahami sebelum kita
bicara soal apa yang perlu diubah.
Dua Instrumen, Dua Tujuan
ANBK diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk
memotret mutu sistem pendidikan , bukan untuk menilai siswa secara individual.
Pesertanya dipilih secara acak dari kelas V SD, kelas VIII SMP, dan kelas XI
SMA. Tidak ada nilai individu yang keluar, tidak ada yang lulus atau tidak
lulus. ANBK mengukur empat hal: literasi membaca, numerasi, survei karakter,
dan survei lingkungan belajar. Hasilnya diolah menjadi Rapor Pendidikan,
dokumen yang bisa dibaca sekolah dan dinas sebagai bahan evaluasi.
TKA berbeda. Ia mengukur capaian akademik siswa secara individual ,
diikuti oleh kelas VI SD, kelas IX SMP, dan kelas XII SMA. Sifatnya tidak
wajib, tapi hasilnya bisa dipakai sebagai komponen seleksi ke jenjang
berikutnya: mendukung SPMB untuk jenjang SD-SMP, dan menjadi bahan pertimbangan
SNBP untuk yang ingin masuk perguruan tinggi negeri. TKA lahir dari kekosongan
yang ditinggalkan sejak Ujian Nasional dihapus, kebutuhan akan ukuran capaian
individu yang terstandar dan objektif.
Dua instrumen, dua tujuan. Tapi ada satu hal yang sama: keduanya menuntut
kemampuan berpikir dan bernalar, bukan hafalan. Dan di situlah ujung dari semua
ini selalu bertemu di satu titik: guru.
Potret yang Belum Menggembirakan
Rapor Pendidikan 2025, yang memuat hasil Asesmen Nasional 2024, mencatat
kemajuan. Literasi naik dari 59,49 persen pada 2022 menjadi 70,03 persen pada
2024. Numerasi dari 45,24 persen menjadi 67,94 persen. Tren positif, dan itu
memang layak diapresiasi.
Tapi berhenti di situ dulu. Artinya masih ada sekitar 35 persen siswa
yang belum mampu memahami teks sederhana sesuai jenjangnya, dan belum bisa
menyelesaikan soal matematika kontekstual yang paling dasar sekalipun. Dan
kenaikannya mulai melambat, sinyal yang tidak boleh diabaikan.
NTT: Cermin yang Paling Jujur
Kalau data nasional sudah mengkhawatirkan, data dari Nusa Tenggara Timur
terasa lebih berat lagi. Di semua jenjang, SD, SMP, SMA/SMK, capaian literasi
dan numerasi di NTT masih di bawah kompetensi minimum. Kurang dari 50 persen
peserta didik mencapai batas tersebut. Kepala BPMP Provinsi NTT menyebut rapor
pendidikan NTT "belum tuntas". Kepala Dinas Pendidikan NTT menegaskan
bahwa ini adalah "potret pendidikan yang harus segera dituntaskan."
Rapor Pendidikan 2025 mencatat NTT dan Papua secara konsisten tertinggal.
Kondisi geografis, status wilayah, dan posisi sosial siswa masih menjadi
penentu utama. Ini bukan soal anak-anak yang kurang pintar. Ini soal sistem
yang belum benar-benar hadir di sana.
NTT adalah cermin paling jujur dari apa yang terjadi ketika ekosistem
pendidikan tidak berfungsi. Dan di jantung ekosistem itu, selalu ada guru yang
ingin mengajar dengan baik, tapi tidak selalu punya cukup dukungan untuk
melakukannya.
Gurunya Mau, Sistemnya yang Belum Serius
Saya ingin meluruskan satu narasi yang sering muncul: seolah-olah
masalahnya ada pada guru yang malas belajar atau tidak mau berkembang. Itu
tidak adil dan tidak akurat. Sebagian besar guru yang saya kenal punya
keinginan nyata untuk memberikan yang terbaik. Yang sering tidak ada bukan
niatnya, tapi ruang dan dukungan untuk niat itu tumbuh.
Masalahnya berlapis. Ada soal anggaran, pelatihan yang berkualitas dan
intensif memang tidak murah, dan ini kerap jadi alasan pertama yang muncul
ketika program pengembangan guru dipangkas. Ada soal keseriusan, pelatihan ada,
sertifikat dibagikan, laporan dibuat, tapi cara mengajar di kelas tidak
berubah. Pelatihan semacam itu lebih melayani administrasi daripada guru.
Dan ada soal ekosistem, yang jauh lebih luas dari sekadar lingkungan
sekolah. Pemerintah daerah yang pegang anggaran. Dinas pendidikan yang
merancang program. Pengawas yang hadir bukan hanya untuk memeriksa dokumen.
Gugus yang bisa jadi ruang belajar antar guru lintas sekolah. PGRI yang punya
jaringan besar tapi potensinya belum sepenuhnya dipakai. Kepala sekolah yang
setiap hari menentukan apakah budaya belajar di sekolahnya hidup atau tidak.
Kalau salah satu mata rantai itu putus, dampaknya sampai ke ruang kelas.
Guru yang pulang pelatihan dengan semangat baru bisa kehilangan semangat itu
dalam minggu-minggu pertama, kalau tidak ada yang mendampingi, tidak ada yang
mendukung, tidak ada yang menindaklanjuti. Tapi kalau seluruh rantai itu
bergerak bersama, satu pelatihan yang serius bisa bertahan lama.
Pelatihan Luring: Sungguh-Sungguh, Bukan Sekadar Program
Guru aktif butuh pelatihan khusus tentang ANBK dan TKA. Dan bukan webinar
dua jam yang bisa sambil multitasking. Bukan modul daring yang dibuka lalu
ditutup. Yang dibutuhkan adalah pelatihan luring, tatap muka, intensif,
interaktif. Di situlah guru bisa langsung bertanya, langsung mendiskusikan soal
yang membingungkan, langsung melihat bagaimana orang lain membedah soal
berbasis penalaran, dan langsung mencoba cara mengajar baru di depan rekannya
sendiri.
Daring memang lebih murah dan lebih praktis. Tapi guru yang terbiasa
mengajar di kelas butuh lingkungan belajar yang juga hidup. Perubahan cara
berpikir tidak terjadi dari layar yang bisa dijeda.
Yang lebih penting lagi: pelatihan tidak boleh jadi acara sekali lalu
selesai. Guru perlu terus belajar, bukan karena tuntutan administratif, tapi
karena soal ANBK berkembang, konteks TKA berubah, dan cara mengajar berpikir
kritis terus ditemukan penelitian baru. Guru yang berhenti belajar
perlahan-lahan kehilangan kemampuannya untuk benar-benar mengajar. Pelatihan
harus jadi kebiasaan, bukan pengecualian.
Calon Guru: Bekali Sejak Bangku Kuliah
Tapi memperbaiki yang sudah ada tidak cukup kalau kita tidak juga
memperbaiki hulunya. Mahasiswa FIP dan FKIP yang sekarang duduk di bangku
kuliah, beberapa tahun lagi akan berdiri di depan siswa kelas VI yang
mengerjakan TKA, kelas VIII yang ikut ANBK, kelas XII yang berjuang masuk PTN.
Mereka perlu kenal ANBK dan TKA bukan sebagai nama ujian, tapi sebagai cara
berpikir yang harus mereka ajarkan.
Kurikulum FIP dan FKIP perlu memasukkan pemahaman asesmen berbasis
kemampuan berpikir tingkat tinggi sebagai mata kuliah wajib, bukan pilihan,
bukan sisipan satu sesi. Calon guru harus dilatih menganalisis soal ANBK dan
TKA, memahami logika di baliknya, dan belajar menerjemahkan logika itu ke dalam
kegiatan belajar sehari-hari. Kalau ini dilakukan sejak kuliah, mereka tidak
perlu belajar ulang saat sudah mengajar.
Panggilan untuk Semua Pihak
ANBK dan TKA pada akhirnya hanyalah alat ukur. Yang satu memotret sistem,
yang satu mengukur individu. Tapi keduanya menunjuk ke arah yang sama:
pendidikan yang mendorong anak untuk berpikir, bukan sekadar mengingat. Supaya
arah itu bisa dicapai merata, tidak hanya di kota besar, tapi juga di pedalaman
NTT, di kepulauan yang gurunya mengajar seorang diri, semua pihak harus
bergerak.
Pemerintah daerah sebenarnya memiliki anggaran yang cukup untuk
meningkatkan kualitas pendidikan. Persoalannya bukan pada ketersediaan dana,
melainkan pada bagaimana dana itu digunakan. Pelatihan guru seharusnya
dirancang secara serius untuk mengubah praktik mengajar di kelas, bukan sekadar
memenuhi target administratif.
Dinas pendidikan perlu memastikan bahwa setiap program pelatihan
berdampak nyata, pada cara guru mengajar, cara siswa belajar, dan kualitas
interaksi di kelas. Ketika pelatihan hanya berujung pada sertifikat, maka
esensinya telah bergeser. Sertifikat, sebanyak apa pun, tidak secara otomatis
mencerminkan kualitas pembelajaran yang terjadi. Tanpa perubahan praktik,
pelatihan hanya menjadi formalitas. Dan formalitas, betapapun rapi dikemas,
tidak akan pernah menghasilkan transformasi pendidikan yang sesungguhnya.
Kita tidak kekurangan pelatihan guru; kita kekurangan pelatihan yang
berdampak. Selama orientasi masih pada sertifikat, bukan pada perubahan
praktik, yang dihasilkan hanyalah ilusi peningkatan kualitas. Sertifikat bisa
dibuat dalam hitungan menit, tetapi perubahan cara mengajar menuntut proses,
pendampingan, dan komitmen jangka panjang. Karena itu, ukuran keberhasilan
pelatihan tidak seharusnya berhenti pada jumlah peserta atau sertifikat yang
dibagikan, melainkan pada sejauh mana praktik pembelajaran benar-benar berubah
di ruang kelas.
Pengawas sekolah perlu turun bukan untuk menilai administrasi, tapi untuk
duduk bersama guru dan membantu mereka tumbuh. Gugus, yang selama ini sering
terlupakan, sebenarnya bisa jadi ruang paling efektif untuk belajar bersama
lintas sekolah, kalau benar-benar dihidupkan. PGRI punya jaringan yang luar
biasa luas; pertanyaannya, apakah jaringan itu dipakai untuk mendorong guru
belajar, atau hanya untuk keperluan organisasi? Dan kepala sekolah, ia yang
paling dekat dengan guru setiap harinya. Kalau ia sendiri tidak pernah belajar
hal baru, bagaimana ia bisa mendorong gurunya?
Kalau anak-anak di kelas VI, kelas IX, dan kelas XII kita ingin
benar-benar siap, bukan hanya hafal soal, tapi benar-benar bisa berpikir, maka
gurunya harus siap lebih dulu. Dan guru tidak akan siap sendiri. Mereka butuh
sistem yang hadir, bukan sistem yang hanya tertulis di atas kertas.
Jadi pertanyaannya bukan saja "apakah siswa kita siap?",
melainkan, "sudahkah kita semua benar-benar serius menyiapkan
gurunya?"
.png)
5 Komentar
Tulisan ini keren, nyambungin ANBK sama TKA jadi satu arah yang jelas. Bukan cuma soal nilai, tapi kualitas belajar. Intinya dapet banget: fokus ke literasi, numerasi, sama karakter. Tinggal PR-nya di lapangan, apakah guru-guru sudah siap jalanin ini biar nggak cuma jadi kebijakan di atas kertas.
BalasHapusTulisan ini sangat kuat dan jujur, saya sepenuhnya mendukung isinya, ANBK dan TKA memang berbeda tujuan, tetapi keduanya menegaskan hal yang sama yairu kemampuan berpikir siswa sangat bergantung pada kualitas pembelajaran di kelas, dan itu pasti dikembalikan pada guru. Namun, seperti yang disampaikan, persoalannya bukan pada kemauan guru, melainkan pada ekosistem yang belum optimal mendukung siswa kita,
BalasHapusSaya sepakat bahwa pelatihan harus lebih serius, kontekstual, dan berkelanjutan, bukan sekadar formalitas.
Intinya, jika ingin siswa benar-benar mampu berpikir, maka guru harus diperkuat, dan itu hanya bisa terjadi jika sistem ikut bergerak bersama
Menurut saya, artikel ini sangat baik dan menyentuh inti masalah pendidikan kita.
BalasHapusPenulis berhasil menjelaskan dengan jernih bahwa ANBK dan TKA hanyalah alat ukur. Masalah utamanya bukan siswa yang kurang mampu, melainkan ekosistem pendidikan yang belum bergerak serius, terutama kualitas guru di lapangan. Saya sangat setuju bahwa yang paling membekas bukan angkanya, tapi realita anak yang bisa membaca tapi tidak memahami, atau mengerjakan soal matematika tanpa mengerti konteksnya.
Menurut saya, artikel ini juga jujur soal kondisi di daerah seperti NTT. Data yang disebutkan (literasi dan numerasi masih rendah) memang menjadi “cermin paling jujur” bahwa masalahnya struktural, bukan individual.
Saran tambahan dari saya:
Pelatihan guru sebaiknya tidak hanya tentang “cara mengerjakan soal ANBK/TKA”, tapi lebih dalam ke pembelajaran berbasis kemampuan berpikir (critical thinking, reasoning, literasi). Guru juga butuh ruang untuk saling mengobservasi dan berdiskusi antar sesama guru di sekolah (lesson study atau komunitas belajar).
Kesimpulannya, saya sepenuhnya setuju dengan benang merah artikel ini: guru yang harus terus belajar. Tapi guru tidak mungkin terus belajar sendirian di tengah beban administrasi dan kurangnya dukungan sistem. Kalau kita mau ANBK dan TKA benar-benar bermanfaat, maka perbaikan paling mendasar adalah membangun ekosistem yang mendukung guru untuk tumbuh secara berkelanjutan.
Bagus sekali tulisannya. Semoga banyak dibaca oleh pengambil kebijakan dan kepala sekolah. 👍
Saya sangat setuju apa yang disampaikan oleh Bapak Mario. Menurut saya secara keseluruhan menggambarkan situasi sistem pendidikan, situasi sekolah, Guru, Murid dan tantangan yang harus kita hadapi bersama kedepannya dalam dunia pendidikan. Memang sudah seharusnya program yang diluncurkan pemerintah berjalan lurus dengan sarana yang memadai untuk mendukung tercapainya program tersebut.
BalasHapusKemudian AMBK dan TKA menjadi tantangan besar bagi Kepala Sekolah, Guru dan Murid. Bagi Kepala ini merupakan cerminan mutu satuan Pendidikan yang dibinanya, bagi Guru menjadi tolak ukur efektif dan efisiennya metode dan pembelajaran yang disajikan selama ini dan bagi Murid ini merupakan capaian individu yang dihasilkan dari pembelajaran selama ini.
Demikian komentar singkat, semoga kita bisa memaksimalkan diri dalam meningkatkan mutu pendidikan di lingkungan sekitar kita, terimakasih.
Saya sangat mengapresiasi artikel ini karena menurut saya isinya sangat relevan dengan kondisi pendidikan saat ini. Artikel ini tidak hanya membahas ANBK dan TKA sebagai alat ukur, tetapi juga mengajak saya melihat persoalan pendidikan dari akar yang lebih dalam, yaitu kesiapan guru, kualitas pembelajaran, serta dukungan sistem pendidikan.
BalasHapusSaya setuju bahwa ANBK dan TKA memiliki tujuan yang berbeda, tetapi keduanya sama-sama menuntut kemampuan berpikir, bernalar, memahami bacaan, dan menyelesaikan masalah secara kontekstual. Hal ini menyadarkan saya bahwa pendidikan tidak boleh lagi hanya berfokus pada hafalan atau latihan soal semata, melainkan harus membangun pemahaman yang benar-benar kuat pada diri siswa. Artikel ini juga menegaskan bahwa guru memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk kemampuan tersebut.