Selamat Datang di Endelogia: Ruang belajar dan bertumbuh bersama

Sekolah Bukan Satu-Satunya Tempat Belajar

Sekolah Bukan Satu-Satunya Tempat Belajar

Komunitas sebagai Ruang Pendidikan yang Hidup

Sejak kecil, kita diajarkan satu rumus sederhana: kalau mau pintar, pergi ke sekolah. Duduk, dengarkan guru, kerjakan soal, pulang. Besok ulangi lagi. Rumus itu tidak sepenuhnya salah, tapi rasanya kita semua pernah merasakan bahwa ada sesuatu yang hilang di sana. Rasa ingin tahu yang tidak sempat dijawab. Pertanyaan yang terasa terlalu aneh untuk diajukan. Tawa hinaan karena pertanyaan kita dianggap sepele, atau jawaban kita salah. Hingga tanpa sadar, belajar terasa lebih seperti beban daripada petualangan.

Di luar tembok sekolah, ada ruang-ruang lain yang diam-diam mendidik. Salah satunya adalah komunitas, dan sudah waktunya kita bicara lebih serius tentang itu.

Ini Bukan Hal Baru

Jauh sebelum ada gedung sekolah, kurikulum, atau rapor, manusia sudah belajar, dari orang tua, dari tetangga, dari para tetua, dari cerita yang dituturkan di tepi api unggun. Pengetahuan mengalir dari mulut ke mulut, dari tangan ke tangan. Yang mengajar dan yang belajar memang selalu ada, tapi tidak terikat pada gedung khusus atau jabatan resmi. Siapa pun yang lebih berpengalaman bisa menjadi guru, dan siapa pun bisa belajar dari siapa pun.

Taman baca, kelompok diskusi, sanggar seni, komunitas literasi, dan sebagainya, semua itu bukan inovasi baru. Mereka adalah kelanjutan dari cara manusia belajar yang paling alami. Yang berubah hanya skalanya, dan mungkin kesadaran kita bahwa ruang-ruang ini perlu dijaga dan dihargai.

Sekolah formal hadir dengan segala kelebihannya, struktur, konsistensi, dan pengakuan resmi. Tapi ia juga datang dengan keterbatasan: kurikulum yang padat, waktu yang sempit, dan tekanan untuk "selesai" tepat waktu. Tidak selalu ada ruang untuk anak yang ingin membaca novel seharian, untuk remaja yang ingin berdebat tentang isu sosial, untuk orang dewasa yang ingin belajar hal baru tanpa takut terlihat bodoh. Di sinilah komunitas masuk, bukan untuk bersaing dengan sekolah, tapi untuk mengisi celah yang memang tidak bisa diisi oleh sekolah seorang diri.

Yang Paling Menghambat Belajar Bukan Kurangnya Buku

Coba ingat kembali: kapan terakhir kali kita benar-benar takut salah di depan orang lain? Bagi banyak orang, jawabannya adalah: saat di sekolah.

Sistem pendidikan formal, meski tidak selalu bermaksud demikian, kerap menciptakan rasa takut sebagai produk sampingan. Ada hierarki yang tidak tertulis: yang pintar dan yang tidak, yang naik kelas dan yang tinggal. Nilai menjadi cermin identitas, dan cermin itu tidak selalu jujur, apalagi baik hati. Lama-lama, belajar bukan lagi soal rasa ingin tahu, tapi soal tidak mau terlihat gagal.

Komunitas bekerja dengan cara yang berbeda. Ketika seseorang datang ke taman baca bukan karena diwajibkan, ia datang dengan energi yang berbeda, lebih ringan, lebih terbuka. Ia boleh membaca buku yang "tidak sesuai levelnya." Ia boleh mengajukan pertanyaan yang mungkin dianggap sepele. Tidak ada yang mencoret dengan tinta merah. Dalam suasana seperti ini, belajar bisa kembali menjadi pengalaman yang menyenangkan, penuh rasa ingin tahu, penuh kesalahan kecil yang tidak membebani.

Kadang, Komunitas Bukan Hanya Pelengkap

Di titik tertentu, komunitas bukan sekadar melengkapi sekolah, ia adalah sekolahnya itu sendiri. Ini bukan hiperbola. Di banyak konteks, terutama di daerah yang akses pendidikan formalnya masih terbatas, komunitas adalah satu-satunya ruang belajar yang benar-benar hidup dan relevan.

Ivan Illich pernah menulis hal yang cukup menggelisahkan dalam bukunya Deschooling Society (1971): bahwa sekolah formal, tanpa disadari, telah mengubah belajar menjadi komoditas.1 Sesuatu yang hanya bisa "diperoleh" lewat institusi resmi, yang keabsahannya diukur dari lembar ijazah. Illich mengusulkan yang ia sebut learning webs, jaringan belajar berbasis komunitas, di mana siapa pun bisa menjadi pengajar sekaligus pelajar, dan pengetahuan tidak perlu mengantre melewati birokrasi kurikulum. Terdengar utopis? Mungkin. Tapi bukankah itulah yang sudah bertahun-tahun dilakukan oleh taman-taman baca di pelosok Indonesia?

Taman baca yang dikelola warga bisa jadi tempat anak pertama kali jatuh cinta pada buku. Komunitas ibu-ibu yang berbagi pengetahuan bisa jadi "sekolah" yang paling relevan dengan kehidupan nyata mereka. Ini bukan kekurangan yang perlu dimaklumi. Ini kekuatan yang perlu dirayakan.

Pengalaman serupa tumbuh di banyak penjuru dunia. Paulo Freire membangun círculos de cultura di Brazil, lingkaran belajar di mana warga mendiskusikan realitas hidup mereka sambil belajar membaca, membuktikan bahwa proses literasi paling bermakna justru tumbuh dari percakapan nyata, bukan dari hafalan.2 Di Indonesia sendiri, ribuan taman baca tumbuh dari satu keyakinan sederhana yang sama: bahwa belajar adalah hak semua orang, bukan hanya mereka yang beruntung tinggal dekat sekolah yang baik.

Setiap Orang Guru, Setiap Tempat Sekolah

Komunitas belajar punya sesuatu yang jarang dimiliki sekolah formal: kesukarelaan. Orang datang karena ingin, bukan karena wajib. Dan dari kesukarelaan itulah lahir keterlibatan yang sesungguhnya, bukan sekadar hadir secara fisik, tetapi hadir secara penuh. Tidak ada yang datang sambil menghitung jam pelajaran yang tersisa.

Di komunitas, batas antara "yang mengajar" dan "yang belajar" sering kali kabur dengan cara yang indah. Seorang anak yang sudah lebih dulu membaca buku tertentu bisa berbagi dengan orang yang lebih tua. Seseorang yang tidak pernah lulus SMA tapi punya pengalaman hidup yang kaya bisa mengajarkan hal yang tidak ada di buku teks manapun. Belajar menjadi percakapan, bukan monolog. Dan itu mengubah segalanya.

Ki Hajar Dewantara sudah melihat ini jauh sebelum kita. Bapak Pendidikan Indonesia itu pernah berkata: "Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah."3 Bukan basa-basi, bukan slogan. Itu adalah visi tentang pendidikan sebagai tanggung jawab bersama, sesuatu yang mengalir di antara kita, bukan yang datang dari atas ke bawah. Senada dengan itu, ia juga berpesan: "Jadikan setiap tempat sebagai sekolah dan jadikan setiap orang sebagai guru."3 Di saat kita masih sibuk mendebat apakah komunitas "sah" sebagai ruang belajar, Ki Hajar sudah memberikan jawabannya puluhan tahun lalu.

Gagasan ini juga mendapat pijakan ilmiah yang kuat. Psikolog Lev Vygotsky menemukan bahwa belajar pada dasarnya adalah proses sosial, kita tumbuh bukan dalam kesendirian, tapi melalui interaksi dengan orang lain.4 Konsepnya yang terkenal, Zone of Proximal Development, menunjukkan bahwa kita bisa memahami jauh lebih banyak hal ketika belajar bersama, baik dengan yang lebih berpengalaman maupun yang setara. Komunitas, dengan segala obrolan dan pertukaran yang terjadi di dalamnya, adalah laboratorium hidup dari teori Vygotsky.

Dan ada satu hal lagi yang komunitas ajarkan, yang tidak akan pernah masuk silabus manapun: cara hidup bersama. Cara mendengarkan orang yang berbeda pendapat. Cara berbagi dengan tangan terbuka. Cara berbahagia atas keberhasilan orang lain. Kecerdasan sosial ini hanya bisa tumbuh dari pengalaman nyata, dan komunitas adalah tempat paling alami untuk menumbuhkannya.

Belajar Adalah Hak, Bukan Hak Istimewa

Pertanyaan tentang apakah belajar di luar sekolah "diakui" atau "sah" memang wajar muncul. Tapi mungkin kita perlu membaliknya: jangan-jangan kita yang selama ini terlalu sempit mendefinisikan apa itu belajar?

Bayangkan seorang anak yang menghabiskan sore di taman baca. Ia memilih sendiri buku yang ingin dibacanya. Ia berdiskusi dengan kakak relawan tentang cerita yang baru ia selesaikan. Ia pulang dengan kepala penuh pertanyaan baru. Tidak ada rapor yang mencatat itu. Tidak ada sertifikat yang mengesahkannya. Tapi sesuatu dalam dirinya sedang tumbuh: rasa ingin tahu, kemampuan berpikir, dan, yang paling berharga dari semuanya, kecintaan pada proses belajar itu sendiri. Kecintaan itulah yang akan bertahan lama, jauh setelah ia lupa rumus-rumus yang dulu dipaksakan masuk sebelum ujian.

Tentu saja, komunitas bukan jawaban ajaib. Ia butuh orang-orang yang mau hadir, yang mau repot, yang mau menjaga ruang itu tetap hidup ketika tidak ada yang mewajibkan mereka melakukannya. Ia butuh buku, butuh tempat, butuh energi yang tidak selalu mudah dikumpulkan.

Tapi justru karena itulah ia berharga. Komunitas belajar tidak dibangun oleh regulasi atau anggaran. Ia dibangun oleh kepedulian, keyakinan bahwa pendidikan terlalu penting untuk diserahkan sepenuhnya kepada institusi, dan bahwa kita masing-masing punya peran di dalamnya.

Mungkin inilah yang paling perlu kita ingat: pendidikan bukan sesuatu yang terjadi pada kita, dan bukan sesuatu yang selesai ketika kita keluar dari gerbang sekolah. Ia adalah perjalanan sepanjang hayat, yang kita bangun bersama, di ruang kelas, di rumah, di taman baca, di kedai kopi, di warung nasi kuning, di mana pun ada orang yang mau duduk, membuka buku, berdiskusi, berpendapat, dan bertanya tanpa takut.

Dan selama ada tempat seperti itu, belajar tidak akan pernah benar-benar berhenti.

Ditulis oleh Mario Capestrano Gesiradja: kadang guru, kadang murid, kadang mengajar, seringnya belajar.

Catatan Kaki

1 Illich, I. (1971). Deschooling Society. New York: Harper & Row.

2 Freire, P. (1968). Pedagogy of the Oppressed. New York: Herder and Herder.

3 Ki Hajar Dewantara. Kutipan dari filosofi pendidikan Taman Siswa. Sumber: tamansiswapusat.com dan detik.com/edu.

4 Vygotsky, L. S. (1978). Mind in Society: The Development of Higher Psychological Processes. Cambridge, MA: Harvard University Press.

 

Daftar Pustaka

Dewantara, Ki Hajar. (1922). Filosofi Pendidikan Taman Siswa. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa.

Freire, P. (1968). Pedagogy of the Oppressed. New York: Herder and Herder.

Illich, I. (1971). Deschooling Society. New York: Harper & Row.

Vygotsky, L. S. (1978). Mind in Society: The Development of Higher Psychological Processes. Cambridge, MA: Harvard University Press.

1 Komentar