|
Ruang Bertumbuh: Tukar Cerita #2 · Ende, 26 April 2026 |
Membaca Ende, Merawat Ingatan
Menyusuri Jejak Sejarah dan Jiwa Kota Ende
ENDE — Dua
puluh tiga anggota komunitas Taman Baca Anak Merdeka (TBAM) memulai perjalanan
yang tak biasa pada Sabtu, 26 April 2026. Bukan sekadar jalan-jalan, mereka
menyusuri lorong waktu Kota Ende, dari Rumah Pengasingan Bung Karno hingga
tepian Pantai Kota Raja, dalam sebuah kegiatan bertajuk Ruang Bertumbuh:
Tukar Cerita #2, “Membaca Ende, Merawat Ingatan.” Perjalanan ini
menjadi ikhtiar kolektif para anak muda untuk mengenal, merekam, dan
merefleksikan kota kelahiran mereka sendiri.
Melangkah di Atas Tanah Sejarah
Bertolak dari markas TBAM, rombongan
mengawali perjalanan dengan mengunjungi Rumah Pengasingan Bung Karno,
tempat Bung Karno diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1934 hingga
1938. Di sana, pemandu menyambut rombongan dengan cerita-cerita yang jarang
terdengar, termasuk soal beberapa kunci dapur yang hilang, detail kecil yang
menjadi penanda nyata betapa bangunan bersejarah itu pun bergulat dengan
tantangan perawatan sehari-hari.
Perjalanan berlanjut ke Taman Renungan
Bung Karno, tempat Soekarno berkontemplasi merumuskan dasar negara, lalu ke
Serambi Soekarno & Nusa Indah, sebelum berhenti cukup lama di Gedung
Immaculata, bangunan tua milik Keuskupan SVD yang berdiri di jantung kota
namun kini nyaris terlupakan. Rute kemudian menyinggahi kawasan Gunung Meja
dan Pasar Mbongawani, sebelum akhirnya merapat ke Pantai Kota Raja
sebagai titik pungkas hari itu.
Gedung yang Sunyi di Tengah Kota yang Riuh
Gedung Immaculata menjadi titik diskusi
paling hangat sepanjang perjalanan. Berdiri di pusat Kota Ende, bangunan
bersejarah itu justru terasa sunyi dan terabaikan, temboknya penuh coretan,
ruang-ruangnya kosong, dan keberadaannya hampir tak diketahui publik luas.
Seorang peserta bahkan baru pertama kali menginjakkan kaki di sana, meski sudah
lama tinggal di Ende.
“Tempatnya sepi sekali. Padahal itu bangunan
di tengah Kota Ende, salah satu situs sejarah yang ada di sini. Kalau
bangunannya ada di pinggir kota, mungkin masih bisa dimaklumi. Ini di
tengah-tengah kota, tapi tidak teruru,”
ujar seorang peserta yang baru pertama kali menginjakkan kaki di gedung
itu, meski sudah lama tinggal di Ende.
Coretan di dinding Immaculata pun dibaca
secara berbeda: bukan sekadar vandalisme, melainkan cermin dari kebutuhan anak
muda yang tak memiliki ruang berekspresi. Pertanyaan soal status kepemilikan
juga mengemuka, gedung itu masih tercatat milik Keuskupan SVD, bukan pemerintah
daerah, dan dari sana, pertanyaan lebih besar pun muncul tentang banyak aset
kota yang terlantar tanpa kejelasan pengelolaan.
“Kita butuh ruang untuk berekspresi. Banyak
gedung yang tidak dipakai. Daripada dibangun baru, lebih baik yang sudah ada
direhab dan dijadikan sesuatu yang berguna untuk Ende ke depan,” kata salah
satu peserta.
“Ende terlalu sibuk dengan bangunan baru
sampai lupa dengan yang lama yang belum terurus dengan baik,” tambah
peserta lain.
Ende sebagai Rahim Pancasila: Potensi yang
Menunggu Dirawat
Dari presentasi empat kelompok di Pantai Kota
Raja, muncul pemetaan yang tajam tentang kondisi dan potensi Ende. Kelompok
pemetaan potensi menegaskan bahwa Ende, yang dikenal sebagai landmark rahim
lahirnya Pancasila, sesungguhnya menyimpan modal luar biasa yang belum
digarap serius.
“Ende sebenarnya berpotensi menjadi pusat
wisata edukasi sejarah, terutama bagi pelajar, wisatawan, dan peneliti. Ende
punya peluang besar untuk menjadi kota sejarah unggulan di Indonesia,” ujar juru bicara kelompok pemetaan
potensi.
Potensi itu mencakup pengembangan museum
daerah, tur sejarah berskala lebih luas dengan sasaran pelajar SD dan SMP,
hingga program edukatif tentang perjuangan kemerdekaan dan lahirnya Pancasila.
Namun kenyataannya tak seindah gagasan: infrastruktur jalan menuju kawasan
wisata masih memprihatinkan, pengelolaan situs sejarah belum optimal, dan
banyak bangunan bersejarah kondisinya jauh dari layak. Peserta mendesak
pemerintah daerah untuk memperbaiki akses jalan sebelum berbicara soal
pengembangan wisata, dan menegaskan bahwa renovasi pun harus tetap menghormati
nilai arsitektur aslinya.
Pantai, Makan Bersama, dan Bersih-Bersih
bersama Trash Hero
Pantai Kota Raja bukan sekadar titik akhir
perjalanan. Di sana, rombongan TBAM disambut empat anggota komunitas Trash
Hero beserta seorang Trash Hero Kid yang dengan semangat turut serta dalam
kegiatan bersih-bersih pantai. Tukar cerita dengan komunitas peduli lingkungan
itu menjadi pengingat bahwa merawat kota bukan hanya soal situs sejarah, tetapi
juga soal kebersihan dan kepedulian sehari-hari, hal yang berulang kali disebut
peserta sepanjang perjalanan.
Selanjutnya, di tengah semilir angin laut
sehabis hujan, peserta makan bersama, menyusun rencana tindak lanjut (RTL), dan
membagi diri ke dalam empat kelompok penulisan hasil perjalanan. Sebuah penutup
yang hangat dan bermakna bagi seharian penuh susur kota.
Refleksi: Mengenal Kota, Mengenal Diri
Sesi refleksi dan evaluasi di penghujung
kegiatan menjadi momen yang paling jujur dan menyentuh. Banyak peserta mengaku
baru pertama kali menginjakkan kaki di Gedung Immaculata dan Rumah Pengasingan
Bung Karno, padahal mereka telah lama tinggal di Ende. Pengalaman itu memantik
kesadaran kolektif: betapa mudahnya kita melupakan sejarah yang ada di depan
mata.
Sejumlah peserta menyebut kegiatan ini
sebagai ruang untuk mengenal kota sekaligus mengenal sesama. Sisi edukatif
perjalanan pun terasa kuat, situs-situs yang dikunjungi dinilai bukan hanya
bernilai historis, tetapi juga sebagai pusat pendidikan karakter dan penguat
semangat nasionalisme generasi muda.
“Gedung Immaculata seharusnya bisa menjadi
tempat berkumpulnya komunitas dan generasi muda di Kabupaten Ende, untuk
melakukan kegiatan bermakna yang membantu membangun Ende lebih dikenal di
tingkat nasional,” ujar seorang peserta dalam sesi refleksi.
Evaluasi pun mengalir konstruktif.
Kedisiplinan waktu menjadi catatan utama, keberangkatan hari itu tertunda
hampir dua jam dari rencana semula pukul 10.00 WITA. Untuk kegiatan mendatang,
peserta mengusulkan agar fokus pada satu atau dua situs saja agar eksplorasi
bisa lebih mendalam.
“Kalau dalam satu hari banyak mengunjungi
tempat sejarah, informasi yang bisa digali jadi terbatas karena waktu. Ke
depannya kita bisa fokus di satu atau dua tempat, dan mendatangkan narasumber
yang lebih paham mendalam,” tegas seorang peserta dalam sesi
evaluasi.
Satu suara yang berulang dari hampir semua
peserta: kegiatan ini menyenangkan, mempererat ikatan antaranggota, dan membuka
mata akan potensi Ende yang selama ini kurang diperhatikan. Bagi banyak di
antara mereka, hari itu bukan hanya sebuah tur, melainkan sebuah cara baru
untuk mencintai kota.
Ruang Bertumbuh: Tukar Cerita #2 membuktikan
bahwa membaca sejarah bukan sekadar membuka buku, kadang cukup dengan berjalan,
melihat, dan berbicara. Ende menyimpan banyak cerita yang menunggu dirawat. Dan
mungkin, generasi muda seperti anggota TBAM-lah yang paling layak untuk
merawatnya.
Taman Baca Anak Merdeka (TBAM) ·
Ende, Nusa Tenggara Timur · 26 April 2026
0 Komentar