Cahaya di Ujung Jalan Jedag-Jedug
Refleksi
Perjalanan Literasi di Kabupaten Ende, NTT
(Oleh:
Mario Capestrano Gesiradja)
Satu hal yang tidak pernah saya siapkan adalah air mata. Kami sudah
menyiapkan pickup, tumpukan buku, terpal untuk melindunginya dari hujan, dan
mental untuk jalan berbatu yang bisa membuat tulang punggung protes semalaman.
Tapi air mata, itu datang sendiri, tanpa permisi, biasanya tepat di momen
ketika seorang anak di desa terpencil meraih buku dengan kedua tangannya dan
langsung membuka halamannya dengan ekspresi seperti orang yang baru menemukan
harta karun.
Kami, saya bersama teman-teman Taman Baca Anak Merdeka dan Forum Giat
Literasi Kabupaten Ende, sudah berkeliling ke desa-desa di Ende, bahkan yang
paling terpencil sekalipun. Perjalanannya bukan perjalanan wisata. Jalanan
berbatu dan berlumpur menghajar pickup kami dari segala arah, hujan deras
memaksa kami memeluk buku agar tidak basah, tidur di lantai sampai kedinginan,
dan berbagai kejutan lain yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya.
Pernah suatu kali ke Desa Ndikosapu, seorang teman yang baru pertama
kali ikut sempat memaki-maki saya karena jalan yang sangat buruk membuat
motornya tersiksa. Saya tertawa terbahak-bahak di tengah jalan bebatuan. Memang niat saya mau menunjukkan mereka bahwa seperti inilah jalan yang kami pilih dan kami lalui selama ini. Beberapa jam kemudian, dia yang meminta
maaf sambil berterima kasih, karena ternyata kami disambut begitu hangat oleh
warga desa hingga dia sendiri yang terharu. Dia meminta agar selalu diajak jika ada kegiatan seperti ini lagi. Itulah yang selalu terjadi di ujung
setiap perjalanan jedag-jedug itu.
Namun sebenarnya, di tengah jalan-jalan yang jedag-jedug itu, atau di
tengah hujan yang menerpa, atau kadang di tengah malam di desa yang gelap dan
hanya diterangi bintang-bintang dari galaksi Bima Sakti, muncul satu pertanyaan
yang terus mengendap: apakah semua ini berdampak?
Mata yang Menyala, Rak yang Kosong
Di setiap desa yang kami kunjungi, saya menemukan satu hal yang selalu
menguatkan langkah: minat baca anak-anak di sana sangat tinggi. Mereka tidak
sekadar menerima buku yang kami bawa, mereka berebut. Mata mereka menyala. Ada
rasa ingin tahu yang begitu besar dan murni, seolah buku adalah jendela yang
selama ini mereka tahu ada, tapi belum pernah bisa dibuka. Sinar mata itulah
yang membuat kami yakin bahwa kami melakukan sesuatu yang benar.
Tapi di balik cahaya itu, ada kenyataan pahit yang tidak bisa kami
pungkiri: buku yang layak baca hampir tidak ada. Di rumah tidak ada. Di sekolah
sangat minim. Di kantor desa, kosong. Buku masih menjadi barang mewah di
wilayah timur Indonesia. Harga buku di toko sudah relatif tinggi, dan ongkos
kirim bisa dua kali lipat harga bukunya sendiri, sehingga akses terhadap bahan
bacaan menjadi tantangan struktural yang nyata bagi masyarakat di luar Pulau
Jawa.
Kebijakan pemerintah desa dan kabupaten pun belum menjadikan literasi
sebagai prioritas nyata. Literasi sering hanya jadi jargon, diucapkan di
pidato, dicetak di spanduk, berfoto dengan jari L sebagai simbol Literasi (yang
kadang membuat saya geli sendiri), lalu kemudian dilupakan. Data BPS menunjukkan
bahwa kunjungan siswa SD ke perpustakaan hanya mencapai 37,31 persen, angka
paling rendah di antara semua jenjang pendidikan (BPS, 2025), sementara secara
nasional hanya 20,7 persen masyarakat Indonesia yang rutin membaca setiap hari
(Survei GoodStats, 2025).
Banyak Taman Bacaan Masyarakat (TBM) hadir di NTT dengan semangat yang
luar biasa untuk menjawab masalah ini. Tapi membuka dan mempertahankan TBM itu
tidak mudah. Banyak yang pontang-panting, kehabisan napas di tengah jalan, dan
akhirnya tidak bertahan lama, bukan karena niatnya kurang, tapi karena
ekosistem pendukungnya memang lemah. Perpustakaan Nasional mencatat bahwa
keberadaan TBM seharusnya tidak hanya sebagai pelengkap fasilitas pendidikan
formal, tetapi sebagai sarana memperluas akses ilmu pengetahuan sesuai
kebutuhan zaman (Perpusnas, 2023).
Membaca Data dengan Jujur
Maka ketika Perpustakaan Nasional (Perpusnas) bersama BPS merilis data
pada 2025 dan menunjukkan bahwa NTT tampil sebagai provinsi dengan Tingkat
Kegemaran Membaca (TGM) tertinggi di Indonesia dengan skor 62,05 poin, jauh
melampaui rata-rata nasional sebesar 54,8 poin (Perpusnas & BPS, 2025),
saya membaca berita itu dengan perasaan yang bercampur aduk. Di satu sisi, saya
bangga. Tentu saja. Itu adalah validasi dari apa yang selama ini kami lihat
dengan mata kepala sendiri, bahwa anak-anak dan masyarakat NTT punya hasrat
membaca yang luar biasa. Tapi di sisi lain, kita perlu membaca angka itu dengan
jujur dan tidak terburu-buru berpuas diri.
Perlu diingat bahwa TGM tidak hanya mengukur buku yang dibaca.
Indikatornya mencakup frekuensi membaca per minggu, durasi membaca per hari,
jumlah buku per triwulan, dan, ini yang sering luput dari sorotan, frekuensi
akses internet per minggu (Perpusnas, 2023; BPS, 2025). Artinya, skor tinggi
NTT bisa jadi mencerminkan kombinasi antara semangat membaca yang memang nyata
dan meningkatnya akses digital, bukan semata-mata karena rak buku di
rumah-rumah sudah penuh.
Tapi ada yang mengganjal. Riset World’s Most Literate Nations oleh
Central Connecticut State University (2016) menempatkan Indonesia di peringkat
ke-60 dari 61 negara yang disurvei, jauh dari gambaran yang ditampilkan skor
TGM. Selisih ini bukan berarti salah satu datanya bohong. Kemungkinan besar ini
soal metodologi yang berbeda: TGM mencakup spektrum yang lebih luas termasuk
akses konten daring, sementara PISA lebih fokus pada kemampuan memahami dan
menggunakan teks secara mendalam (OECD/PISA, 2022).
Skor tinggi dalam TGM tetap kabar baik. Tapi bukan garis akhir, itu
titik awal untuk bertanya lebih jujur: kualitas bacaannya seperti apa,
pemahamannya sedalam apa, dan ekosistem literasinya bisa bertahan tidak?
Potensi yang Menunggu untuk Dipenuhi
Yang saya tahu pasti, bukan dari data, tapi dari pengalaman di
jalan-jalan berbatu Ende, adalah bahwa potensi itu nyata dan menunggu untuk
dipenuhi. Anak-anak di Ndikosapu, Kotabaru, Numba, Saga, Detusoko, Nangaba,
Onekore, Ipi, Arubara, Penggajawa, Nuanggela, Wolomage, Woloara, Nuabosi, dan
masih banyak desa lainnya yang namanya mungkin tidak ada di peta aplikasi
navigasi mana pun, punya rasa ingin tahu yang tidak kalah dari anak-anak di
kota besar. Yang membedakan mereka hanyalah akses.
Wigfield dan Guthrie (1997) sudah lama menunjukkan bahwa kegemaran
membaca sejak kecil berhubungan erat dengan perkembangan kognitif,
kesejahteraan psikologis, dan kemampuan sosial anak. Jadi setiap buku yang
sampai ke tangan anak di desa terpencil bukan sekadar kertas berisi tulisan, itu
investasi jangka panjang yang hasilnya baru kelihatan sepuluh atau dua puluh
tahun kemudian.
Jika pemerintah daerah serius, bukan serius dalam jargon, tapi serius
dalam anggaran, dalam kebijakan, dalam kebiasaan pemimpinnya sendiri, maka NTT
bukan hanya bisa menjadi provinsi dengan minat baca tertinggi secara statistik,
tapi juga secara substansi. Perpusnas sendiri telah mendorong replikasi Taman
Bacaan Masyarakat Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) dan alokasi Dana Alokasi
Khusus (DAK) untuk pengembangan perpustakaan desa sebagai langkah konkret
(Perpusnas, 2024). Tapi kebijakan pusat tidak akan berarti banyak tanpa
komitmen yang tulus dari pemerintah daerah.
Satu hal yang tidak pernah saya siapkan adalah air mata.
Tapi sekarang saya tahu dari mana asalnya. Bukan dari kelelahan, bukan
dari jalan yang jedag-jedug, bukan dari malam-malam dingin. Air mata itu datang
karena ada kontradiksi yang terlalu besar untuk ditahan dalam dada: anak-anak
dengan mata yang menyala, tapi rak buku yang kosong. Minat yang luar biasa,
tapi ekosistem yang abai. Skor TGM tertinggi nasional, tapi pickup tua milik relawan
masih menjadi satu-satunya perpustakaan bergerak yang mereka punya.
Kepada para pengambil kebijakan yang membaca tulisan ini sambil duduk
di kursi empuk, ini bukan sindiran. Ini undangan. Datanglah sekali saja ke
desa-desa dengan niat untuk menyediakan buku bacaan yang layak untuk mereka.
Tidak perlu membawa kamera. Cukup bawa telinga dan sedikit keberanian untuk
jujur pada diri sendiri bahwa jargon tidak pernah mengajari siapapun cara
membaca.
Kami tidak menunggu keajaiban. Kami hanya menunggu keseriusan.
Sementara itu, pickup masih ada. Buku masih kami kumpulkan. Dan
anak-anak di ujung sana masih menunggu dengan mata yang menyala.
Selalu.
Daftar Pustaka
BPS (Badan Pusat
Statistik). (2025). Statistik sosial budaya: Kunjungan perpustakaan menurut
jenjang pendidikan. Jakarta: BPS.
GoodStats. (2025). Fakta minat baca siswa Indonesia 2025: Tantangan dan solusi literasi di era digital. Diakses dari https://goodstats.id
OECD. (2022). PISA
2022 results: Factsheets, Indonesia. Paris: OECD Publishing.
Perpustakaan
Nasional Republik Indonesia (Perpusnas). (2023). Kajian Tingkat Kegemaran
Membaca (TGM) dan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM). Jakarta:
Perpusnas.
Perpustakaan
Nasional Republik Indonesia (Perpusnas). (2024). Laporan kajian perpustakaan
Indonesia 2024. Jakarta: Perpusnas.
Perpusnas & BPS.
(2025). Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) masyarakat Indonesia menurut provinsi
2025. Jakarta: BPS.
Miller, J. W., &
McKenna, M. C. (2016). World’s most literate nations. Williamsburg, VA: Central
Connecticut State University.
Wigfield, A., &
Guthrie, J. T. (1997). Relations of children's motivation for reading to the
amount and breadth of their reading. Journal of Educational Psychology, 89(3),
420–432.
Ditulis sebagai bagian dari refleksi
perjalanan Taman Baca Anak Merdeka dan Forum Giat Literasi Kabupaten Ende, NTT.
Bandung, 16 April 2026

0 Komentar